Kamis, 08 November 2012

Ekonomi Kesejahteraan Amartya Sen dan Adam Smith

Menurut catatan sejarah kontemporer, teori pembangunan ekonomi dianggap lahir berkat karya-karya dari Adam Smith. Oleh karena itulah Adam Smith dianggap sebagai bapak ekonomi dunia. Dua buku Adam Smith yang terkemuka adalah “Theory of Moral Sentiments”. Dalam buku ini, Smith berpendapat kalau simpati dibutuhkan untuk mencapai hasil yang secara sosial menguntungkan. Keadilan merupakan kondisi yang dibutuhkan. Akan tetapi dalam buku selanjutnya yang berjudul “An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776)”. Adam Smith seolah-olah mengemukakan pendapat yang bersebrangan dengan buku pertamanya. 

Menurut para pakar, buku “The Wealth of Nations” Adam Smith dianggap meletakan dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Sehinga Adam Smith dianggap sebagai salah satu pelopor sistem ekonomi kapitalisme. Dalam buku tersebut, menurut Adam Smith "Tiap orang cenderung mencari keuntungan untuk dirinya, tetapi dia dituntun oleh tangan gaib untuk mencapai tujuan akhir yang bukan menjadi bagian keinginannya. Dengan jalan mengejar kepentingan dirinya sendiri dia sering memajukan masyarakat lebih efektif dibanding jika dia betul-betul bermaksud memajukannya". Dalam perkembanganya, dua karya Adam Smith diatas dikaji secara terpisah. Dibuat seolah-olah saling bertentangan satu sama lain, sehingga lahirlah kesenjangan yang sangat sulit ditutup. 


Hingga akhirnya dalam ilmu ekonomi, muncul Amartya Sen yang mengingatkan akan nilai etika yang ditinggalkan selama ini. Sebagai ilmuwan yang mengedepankan pentingnya restorasi etis dalam penerapan ilmu ekonomi teori-teori, Sen merupakan terobosan penting dalam ekonomi pembangunan. Pada awalnya, obsesi keilmuan Sen memang terdengar klise dan banyak dicemooh, termasuk oleh profesornya di Cambridge. Namun hal itu tidak menyurutkan keyakinan dan kesungguhan untuk terus bekerja mengkaji dan merevisi sejumlah parameter ekonomi pembangunan. 

Masa kecilnya di India yang akrab dengan kemiskinan membuatnya bertekad untuk mengenyahkan kemiskinan melalui ilmu ekonomi, hingga PBB akhirnya mengakui temuan-temuannya sangat signifikan untuk memetakan kemiskinan dan kelaparan di dunia. Hasil kerjanya dipandu oleh keyakinan bahwa ilmu ekonomi tidak hanya berurusan dengan pendapatan dan kekayaan, melainkan seharusnya juga berwajah manusia dengan dimensi moral yang kuat. Berbagai pandangan Sen tentang pentingan dimensi moral/etika dalam ekonomi inilah yang mengingatkan para pakar ekonomi dunia kepada buku Adam Smith yang pertama, yang berjudul “Theory of Moral Sentiments”. 

Konsep etika dalam ekonomi yang disampaikan oleh Sen ini, disampaikan dalam bukunya yang berjudul “L’├ęconomie est une science morale”. Dalam buku tersebut Sen berpendapat bahwa hidup dan martabat manusia terlalu berharga hanya untuk dijadikan tumbal persoalan ekonomi semata. Di mata Sen, sudah wajarlah jika nilai ‘kebebasan individual’ tidak dipinggirkan dalam setiap debat ekonomi. 

Bagi Sen, pengingkaran terhadap hak asasi akan menjadi kendala bagi pembangunan manusia, karena jaminan akan hak asasi manusia dapat mengurangi resiko bencana sosial ekonomi. Hal ini jelas dapat diterapkan apabila anggota-anggota masyarakat memiliki sarana atau akses untuk mengadu, memperoleh kesempatan untuk mendapatkan informasi dan pengajaran yang mampu membuka wawasan dan kesadaran akan hak mereka. Negara dapat berperan sebagai regulator dan fasilitator untuk menjamin terkondisinya hal tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentarny kawan, terimakasih...